20110601

MENTAL KERUMUNAN SELALU INGIN MENDAPATKAN PENGAKUAN SOSIAL

MENTAL KERUMUNAN SELALU INGIN MENDAPATKAN PENGAKUAN SOSIAL

Dalam usaha merahi cita-cita dunia yang sama. Bilamana MENYADARI ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi. Menjadikan seseorang bertanya: "kenapa???"; "Kog bisa???".



TIDAK REALISTIS (SUBJEKTIF)

Dengan kepercayaan akan kemampuan diri yang tinggi. Bila tidak sesuai dengan yang diinginkan maka akan berusaha merasionalisasikan diri bahkan dengan alasan yang irasonal. Seolah dipihak lain -sudah- melakukan kecurangan dan itu tidak adil/benar. Seolah menginginkan nasib/ 'start' yang sama. Dan kurang menyadari bahwa semua yang terjadi adalah ujian bagi dirinya dan antara satu dan lainnya memiliki perbedaan yang tidak bisa disamakan.



AKHIRAT SAJA

Bila KESADARAN TINGGI akan kekurangan diri dan tidak/ dengan cukup kuat alasan untuk merasionalisasikannya. Maka alasan akhirat (selain duniawiyah) adalah alasan terakhir dan paling aman untuk menjawab ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi. Dimana seseorang memastiakan diri untuk tidak bisa memaksakan terlibat dalam usaha merahi cita-cita dunia yang sama. Seolah -sudah- membatasi garis ideologis yang jelas (dunia-dunia, akhirat-akhirat. "Aku akhirat kamu dunia"). Seolah hanya berpasarah pada urusan duniawiah. Dan kurang menyadari bahwa persaingan duniawiyah itu benar dan wajar adanya lebih-lebih kurang menyadari kepentingan duniawiyah.



Semua alasan dilakukan secara sepihak dengan/tanpa mengadakan-Nya.



DILUAR ITU,

dalam kehidupan sosial ada manusia yang:

1. merasa di intervensi oleh lingkungan dengan keparanoidannya sehingga banyak upaya untuk mereduksinya tidak tertutup kemungkinan termasuk melakukan kecurangan-kecurangan.

2. merasa menjadi bagaian dari interveer (tukang intervensi). karena -sudah- mendapat dukungan dari yang lainnya. Sekalipun bernasib kurang baik.



Dampak intervensi itu sendiri:

apatsi/ permisif, karena besarnya intervensi yang tak terkendali. Atau, karena tidak melibatkan diri untuk menjadi interveer sebab kesibukan diri misalnya atau keengganan mengintervensi orang lain.



mungkin baiknya DIAM dan berhubungan baik tapi tidak melibatkan diri pada pembicaraan yang menyinggung. adapun hanya sebagai pelajaran.



LEADER

Besar kecilnya intervensi itu ditentukan oleh peran stake holders. Biasannya orang yang bernasib baik, kuat, mapan dan lainnya mengikuti dengan missi yang sama tentunya. Semakin kuat stake holders semakin "ngawur" bentuk intervensinya, semakin banyak pengikut yang "ngthok" sekalipun bersebrangan.



POLA DIDIK

yang patut disesalkan dari ini semua adalah penanaman pola didik keluarga tentang CARA UNTUK MENDAPATKAN PENGAKUAN SOSIAL terbawa hingga dewasa.



HUKUM ALAM

Tidak dapat dipungkiri hukum alam masih saja berlaku: "Anda kuat mereka diam!!."



dari lingkungan kembali ke lingkungan. lingkungan yang menggilaimu, lingkungan pula yang menyembuhkannya.
=====
 way of thinking mob always want to get social acknowledgement

in effort merahi world aim same. when realize social lamenesses that. make somebody asks: " why? ? ? " ; " kog can? ? ? " .



not realistic (subjektif)

with belief tall self ability. when disagree with desirable so try merasionalisasi self even with reason irasonal. likely mempihak other -sudah- do deceit and that not fair/true. likely wish for destiny/ 'start same. and less realize that any that test for self and between one and has difference can not be equated.



hereafter

when is cognizance tall self deficit and not/ with enough strong reason to merasionalisasikan. so hereafter reason (besides duniawiyah) latest reason and most safe to answer social lamenesses that. where is somebody memastia self to not can force upon involved in effort merahi world aim same. likely -sudah- limit ideological line clear (worlds, hereafters. " i am your hereafter is world" ). likely only berpasarah in affair duniawiah. and less realize that rivalry duniawiyah that is true and natural existence more less realize importance duniawiyah.



all reasons is done unilaterally with/without mengadakan-.



outdoor that,

in social life there human:

1. felt at intervention by environment with keparanoidan so that many efforts to reduce it not closed possibilities belongs to do deceits.

2. felt to be bagaian from interveer (intervention artisan). because -sudah- get support from the other. even if bernasib unfavourable.



itself intervention impact:

apatsi/ permisif, because intervention magnitude uncontrollably. or, because doesn't involve self to be interveer because for example self bustle or aversion mengintervensi another person.



may be quiet the good and good correlate but doesn't involve self in discussion that touch. as to only as lesson.



leader

big the so small that intervention is determined by character stake holders. the refraction one who bernasib good, strong, mapan and another follows with missi same of course. gain strength stake holders more" talk away" the intervention form, more and more follower" ngthok" even if bersebrangan.



pattern educates

lamentable fitting from all these pattern planting educates family about manner to get social acknowledgement brought up to adult.



laws of nature

undeniable laws of nature still operative: " you are their strong is quiet! ! . "



from environment returns to environment. environment menggilai, also that cure it environment.

Tidak ada komentar: