20080411

MENYOAL OBJEKTIFITAS NALAR


kemarin ada interaktif padamu negeri di metro tv kayaknya ada kesalahan pertanyaan masalah bukti (statment narasumber yang gak berdasar) kelihatan sich relatifismenya, mungkin juga anti positivisme (baca posting sebelumnya donk!) yang seolah-olah menjadi dasar berfikir liberal/posmo (kayaknya posmonya itu setengah-setengah) ah liberal aja dech. kalo boleh mendeskripsikan:

ada tiga bentuk komunikasi:
1. penulis film fitnah (yang dipermasalahkan)
2. Pembawa acara
3. pembicara
4. audience

ARGUMEN KAMI
+apa yang "ada" ntah stetment/argumen/apa yang keluar dari cangkem alias mulut/tulisan (media) adalah melalui analisa pola pikir. yang mebedakan dintaranya kamu, aku, kita & kami / profesor sebagai pembicara, dll adalah pengetahuan & ideologi. kita tidak perlu memaksa mendahuli pengetahuan orang lain kalo gak tahu apa-apa/tidak membahayakan, jangan-jangan emang sensasi, tapi kami yakin gak "sok!" ko!.

(bersambung...1)
---------------------------------------------
*mulutmu harimaumu (kalo orang disekelilingmu masih mempertahankan budaya mereka)
**mulut bagaikan pedang (kalo elo udah nyinggung ne ati atau dia/elonya yang gak pengertian).

biasalah wanita & budaya! pengertian donk!

(bersambung...2)
---------------------------------------------
+masalah buktinya apa (saat penanya melemparkan jawabnya pada pembicara). menurut kami, kita menjadi seperti ini adalah bentukan-bantukan rangkaian-rangkaian yang saling berkaitan (pola pikir, pola didik, pola belajar, dll) sebagaimana kita menangkap/menyimpulkan keadaan psikologis seseorang. karena kita sama pada dasarnya & jika kita bisa membaca (mencoba/menganalisis/apa) pola-pola diatas maka kita layak menyimpulkannya (itu yang dimaksud dengan persepsi/menangkap). selebihnya berhadapan dengan nilai. ngpain tanya buktinya apa (itu artinya memaksakan pembicara untuk mengikuti nilai dalam penanya). jadi proporsional aja! & termasuk mencari nilai kebenaran. Ok!.



Hormat kami,


dentradpsy


(habis)