20080925

MENYOAL PERAN AGAMA DAN PERATURAN TENTANG KDRT


Banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang mungkin oleh tersangka dalam suatu kasus adalah suatu hal yang normatif dengan keadaan yang terjadi sebenarnya disisi lain agama menganjurkan suatu hal harus diajarkan. disisi lain hukum secara legal formal baik dalam undang-undang HAM & KDRT dinyatakan bersalah karena itu adalah bentuk kekerasan.

key word: agresi

case:
kami yakin anda sudah banyak menemukan kasus termasuh pengalaman diri anda

berpegang pada agama:
dalam suatu kasus menganjurkan untuk memukul, kita tahu bahwa banyak bentuk agresifitas yang dilakukan semua manusia dari memukul, menarik rambut, melempar dan yang lebuh ekstrim adalah membunuhnya. bila dibandingkan antara memukul dan melukai perasaan wanita dengan kata-kata. mungkin yang menyakitkan adalah ketika mengatakan dengan kata-kata dan bukankah semua tahu mengatakan "kita cerai" adalah sebuah pantangan. agama itu punya toleransi, sayang kadang dianggap tidak memihak dengan banyak alasan normatif baik dari tinjauan sejarah maupun aturan-aturan kesepakatan HAM.

dampak:
karena sejumlah aturan yang memiliki konsekuensi penjara dan hegemoninya subtitusi agresifitas (repress) dapat dilakukan diluar (baca:rumah tangga). mungkin dengan mencari kesalahan orang lain dan memukul, menghajar, minum-minuman keras, narkoba, jajan ke lokalisasi, menembak, dll dan banyak pula jalan untuk mengeluarkannya jika memiliki kebaranian. hal ini karena tidak bisa melepas pasangan begitu saja mungkin karena anak banyak, pola didik, setia, dll. perepresan jika tidak dilakukan maka akan terjadi gangguan perilaku hal ini akan terbawah ke alam bawah sadar karena alam sadar tidak mampu menampung banyak masalah, sehingga pada akhirnya terjadilah psikosomatik/somatofoam. alhasil bisa kita tangkap suami-suami bener-bener takut istri sehingga tidak bisa melampiaskan emosinya (gak tahu lagi di ranjang).

sebagai manusia dengan pola didik dan pola asuh yang mengajarkan pelampiasan agresifitas. bagaimana bisa kamu memendam amarah dan masalahmu tidak kunjung selesai karena pihak yang kamu anggap berpihak dan tergantung padamu tidak mau diajak kerjasama????.

tidak mungkin ada penyamaan kepribadian seseorang karena pola didik dan pola asuh memang berbeda. bukankah kita menyakini bahwa pola didik dan pola asuh mempengaruhi kualitas agresifitas seseorang baik ada di dalam lingkungan sekitar, lingkungan keluarga, lingkungan pertemanan baik dalam sejarah psikologis sejak kecil dan usia-usia yang belum mampu berfikir jahu diluar itu determinism pada usia emas 0-2 tahun bila mengkaji pada faktor hereditas.
_________________________________________________________
di dalam carut marut perkembangan dunia seperti ini sebuah ke'ego'isan ketika seseorang dengan pola asuh dan pola didik diminta untuk mengkontrol bagaimana dia harus selalu sadar mengendalikan dirinya untuk tidak melakukan bahkan menghentikan agresifitas. masyarakat yang sakit, banci dan liberal mungkin kita akan menemukannya. who more human right and what human right?

okelah pemerintah tidak mau ikut mencampuri urusan psikologis orang kecil satu persatu dan tidak melihat permasalahan kompleks manusia di dalam suatu negara dari berbagai kebijakan baik ekonomi, sosial, politik dan bla-bla-bla, toch di setiap negara ada penjara. dan "memukul" dalam agama dikesampingkan dalam kesepakatan dan diskusi "gak karuan":
kesalahannya adalah ketidakcukupan untuk berfikir jahu (pendidikan)
kemauan untuk berkonsultasi dengan orang luar
dasar percintaan tidak didasari pondasi yang kokoh
tidak menerima keadaan ekonomi dan melihat tetangga sebelah
ketidakmampuan untuk mengungkapkan apa yang terjadi secara baik-baik, dingin, arif dan bijak.
berikan peringatan 1, 2, dan 3 yang berakhir pada punishment dengan alasan yang masuk akal/sesuai dengan kesepakatan.

apakah agresifitas yang didapat dari pola asuh dapat dikontrol?
bukankah kita tahu di negara pluralistik dengan masyarakat mejemuk:
agresifitas seseorang dipengaruhi pola didik dan belajar.
spiritualisme ada ketika kita tahu bahwa Tuhan itu Maha Segalanya
kesadaran ada ketika kita mampu mengendalikan tekanan kehidupan
dan ketidak sadaran adalah sebaliknya.
terlibat "ada dalam dunia" memberikan kita nilai, disadari/tidak!

terus berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan galakkan pelatihan (budaya) yang mengarah pada sejumlah aturan yang etis dilakukan bila mengalami masalah antar pasangan.