20080815

MENYOAL KEBENARAN

"Cayang mana sama Abang!"
"Anak Capaaaaaaaa... ko! imoet"
"Mak Antre doloe... take care'

selama ini kita sudah terlalu banyak mendiskusikan masalah kebenaran, banyak orang sakit karena sulit menentukan masalah kebenaran akan sikap dan tanggung jawabnya (itu salah, sini salah dan semuanya salah, mana yang banar????). dan begitu juga orang yang banyak merasa banar (kamu salah. kamu salah dan salah dan salah!!!).

pada dasarnya kebenaran itu berasal dari kekuatan yang dimiliki:
kekuatan itu banyak bentuknya tapi yang menjadikan kekuatan secara subtansu dan efektif adalah kekuatan berupa fisik (ancaman).

dunia kita berbeda:
kekuatan politik berasal dari seni memainkan banyak orang.
kekuatan fisik berasal dari kekuatan
kekuatan pendidikan berasal dari kekuatan mengilmiahkan segala sesuatu
kekuatan afeksi bersal dari kekuatan menggunakan perasaan untuk memainkan seseorang.
dan banyak kekuatan lainya termasuk
kekuatan kolektif dimana seseorang menggunakan "angka ikut" dalam bertindak.

yup! kabanaran di perpolitikan cenderung bias Yup! karena menggunakan seluruh aspek untuk memainkan seni. oleh sebab itu pencapaian-pencapaian dalam perpolitikan selama ini di cap buruk karena memang kebenaran bukan lah hal yang subtansi. benar bisa jadi salah, salah bisa jadi benar. hanya orang-orang yang berpihak dan menerima (merasakan) lah yang bisa menyimpulkan ini semua adalah kebenaran.

kebenaran tradisional:
tapi toh kesemuanya akan menjadi dan terlihat benar jika melihat pistol ada di depan kepala kita! dan banyak masa yang mengancam akan membunuh kita.

kebenaran modern:
semua langkah diatuuran dan ditetapkan dalam kebenaran ilmiah dan sistematis.

kebenaran seharusnya natural:
kebenaran seharusnya sejalan dengan penghindaran terhadap konflik-konflik yang disengaja atau disadari dimana ada pihak yang merasa dirugikan. kerjasama yang baik!.

oleh sebab itu kita seharusnya percaya semua orang tidak akan melakukan kesalahan yang fatal yang menyebabkan dirinya atau orang lain terluka. jadi jauhkan dari sifat merendahkan, iri dan dengki!.

untuk parameter lebih lengkapnya seharusnya semua tersusun atas dasar ilmiah dan objektif. yup! pendidikan harus digalakkan!. biar semunya merasa benar karena sudah mempunyai kekuatan untuk merasionalisasi apa yang ada. hanya saja unutk masalah yang satu ini seharusnya hanya masalah alokasinya saja!.

hukum yang tertulis hanya usaha manusia untuk mencoba mengatur sejumlah aturan yang menjadi permasalahan yang belum tentu disepakati banyak orang.

kita seharusnya berkomunkasi! kita seharusnya ketemu! kita seharusnya menemukan kongklusi! kita seharusnya....


"berjalanlah mengelilingi botol kecap, kamu akan mempersepsi sebuah kebenaran berdasarkan apa yang kamu lihat."

bagaimana kamu ada disaat melihat tjap (ada botol kecap tersebut) dan disisi yang lainya?!.

siapa yang benar
ketika di pertemukan kesemuanya yang benar adalah yang kuat!.
atau mengambil jalan bijaksana berdasarkan interpretasi ilmiah: "semuanya banar!."


he9x

Biar cocok!, ide lucu neh!.
kalo dipikir-pikir yang tahu hukum adalah orang hukum, gimana kalau yang menjadi tersangka dan terdakwah adalah orang hukum sendiri. masalahnya orang diluar hukum gak ngerti apa dan bagaimananya hukum. tentu dongk dengan tidak adanya peringatan-peringatan sebelumnya!.

begitu juga orang yang tahu membuat tahu (tofu). tentu donk kita tidak bisa menyalahkan/mengatai mereka bodoh membuat tahu. padahal kita sendiri tidak tahu.


toch kadang orang yang tahu bisa saja menghakimi orang yag gak tahu! dengan kemarahan atau dengan hukuman!.

bukankah kita tidak tahu kalau tidak dikasih tahu, gak adil dong (penilaian) disamakan dengan orang yang tahu????.

peran diluar orang-orang yang tidak tahu adalah memberikan masukan supaya adil dan terjalin hubungan kerjasama yang baik. kalau gak ada hubungan kerja sama yang baik/tidak mau dikerjasamai artinya tidak menjunjung rasa keadilan yang baik.

tenang aja masih banyak konflik tidak akan kehabisan ko!

minimal tingkat dasar orang tua zaman doloe berbeda dengan anak muda zaman sekarang

huwaaaaaaa.... haaaaa.............ha.........


"apa coba!"