20150324

Republik Serba Salah part-2

1) Di jarak yang jahu ini kita membaca judul berita on line:
"Negara Rugi Rp 10,6 Triliun, tapi Hakim Hanya Wajibkan Koruptor Bayar Rp 1,4 Triliun"
"Anggota DPRD DKI Merasa Pantas Digaji Rp 70 Juta-Rp 150 Juta Sebulan"
. . .
2) Di jarak yang dekat ini. Di rumah kita masing-masing. Kita membaca kiriman surat pemberitahuan membayar pajak dari dinas pajak. Berusaha memenuhi kewajiban-kewajiban sebagai warga negara. Di luar itu, juga berusaha mencukupi kebutuhan rumah tangga.
Pertanyaannya:
1) Apakah kita diperbolehkan tidak memenuhi kewajiban warga negara. sebagai kompensasi/ ekspresi atas kekecewaan terhadap negara??. Di luar itu negara mengintervensi/ mengendalikan/ mengontrol warga negaranya melalui peraturan atau hukum yang dibuatnya. Artinya, jangan coba-coba melawan hukum.
2) Apakah kita tidak perlu membaca berita-berita itu dan lebih fokus pada keluarga dan/atau diri sendiri?? Karena semakin tahu pemberitaan itu semakin memukakkan!!. Di luar itu sebenarnya kita hanya sekumpulan perkataan dan tulisan yang tanpa kekuatan atau tak ada artinya bagi perubahan negara yang lebih baik. Meskipun beberapa aksi tulisan mencuri perhatian internasional. Atau,
3) Melakukan aksi turun jalan?? Yang sayangnya tidak seperti era-1998 (baca: Tercerai berai).
**Siapa lagi yang dapat di percaya memimpin bangsa ini jika pemberitannya selalu itu-itu saja? Mungkin kita kurang sabar mengikuti proses yang katanya akan jadi lebih baik. Atau termakan berita atau mungkin tidak memiliki parameter yang sama atas keberhasilan pemerintahan** ‪#‎BINGUNG_HARUS_APA‬ @_@

Tidak ada komentar: