20101017

"Berawal Dari Cangkrukan Warung Kopi Terlahirlah Sebuah Status"

"Berawal Dari Cangkrukan Warung Kopi Terlahirlah Sebuah Status"

by on Saturday, October 16, 2010 at 3:32pm
malam-malam@surabaya:
Ditengah-tengah kos-kosan berpenghuni buruh pabrik hingga kuli bangunan tepat 200 meter dari belakang rumah. Terduduk diantara banyak pekerja di sebuah cangkrukan warung kopi. Tanpa harus kritis memikirkan kenapa warung itu namanya "warung kopi 'ayah' seorang perantauan asli Nganjuk dengan gaya pembicaraan khas 'kulonan' yang menyenangkan. Yang kadang mengingatkan saat datang berkunjung ke Telungagung, Ponorogo dan Blitar.

Cangkrukan inilah berderet beberapa orang kelompok [group]. Tanpa harus ada kesepakatan bersama. Masing-masing kelompok sudah memiliki identitas dan stratifikasi cangkrukan berdasarkan posisi duduk yang biasa dipakai dan tingkat usia/keaslian penduduk. Adapun petunjuk atas identitas kelompok secara langsung adalah dengan penyebutan nama salah satu wakil diantara mereka yang tanpa harus memiliki kekuatan untuk bisa/layak disebut pemimpin [sebatas himpunan bagaian].

Sepanjang waktu berjalan. Seperti biasannya arah pembicaraan mereka mengalir dan berubah-ubah. Dan sebagaian besar terdengar saling berhubungan. Sesekali gelar tawa mereka terkadang mengundang kelompok lain atau yang kebetulan mendengar menjadi tertawa lepas. Sebuah keunikan sosial dimana canda tawa adalah penghubung antar kelompok meskipun terbentuk sebuah stratifikasi yang terhormat.

Banyak hal yang mereka ceritakan mulai dari politik dan kebijakan pemerintahan, seks dengan batas pembicaraan dan nada yang masih terkontrol, sepak bola, dan keluh kesah pekerjaan adalah hal yang lumrah terdengar. Sebagaimana semuannya, apa yang mereka sampaikan adalah ilmu pengetahuan dengan kemasan khas gaya dalam mendeskripsikan apa yang mereka indra [empiris] tanpa harus memberikan kode-kode dan mengkaitkan dengan metodelogi ilmiah sehingga masih layak/pantas disebut “mereka bisa menyampaikan teori dari hasil belajar mereka”.

Terlahir dari keluarga sekolahan yang kurang begitu baik nasibnya, tidak pernah diperintahkan/ dipaksakan untuk mengikuti tahapan-tahapan untuk melakukan ritual-ritual aneh, seolah-olah Allah SWT tidak Maha Melihat atau kurang puas atas ibadah yang dilakukan manusia selama ini. Terasa asing untuk diketahui dan didengar saat mereka asik membicarakan supranatural dari puasa ‘telo kependem yang konon katannya bisa memperoleh benda gaib, puasa mbatin yang katannya bisa mendatangkan perempuan yang kita sukai hingga bisa sampai datang kerumah dan lain-lain. Hemmm… menarik memang. Segenap metodelogi ilmiah yang diajarkan dalam bangku sekolah benar-benar mati tak berdaya dengan mudahnya mendapatkan apa yang diinginkan tanpa harus mengenyam sekolah tinggi-tinggi dan berkorban dengan segenap daya upaya. Hanya saja fenomena ini masih tercatat dalam pembahasan filsafat ontologi: “ada” atau “mengada-ada”. Mereka benar-benar menguasai cerita itu dengan sempurna.

Duduk disalah satu bangku panjang terdiam seseorang yang baru terlihat. Dengan wajah kusut menghisap surya yang dibelinya hanya sebatang. Entah hanya ingin melepas kepenatan atau serba salah ingin menambah teman atau ingin menambahi/mengurangi pembicaraan hanya saja rasanya aksinya kurang berani.

Diluar itu seseorang penghuni kos menyetel lagu pop yang terdengar asing di telinga dengan durasi kurang lebih empat menit. Dalam syair lagu itu mengisahkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, dapat dipastikan bukan dari bang Iwan Fals. Terasa atmosfir keramaian itu memudar dan beberapa orang mulai terdiam. Dalam perjalanan pulang sempat -seperti biasannya- terbesit utnuk membuat status baru "setiap orang mempunyai cerita kesedihan sendiri-sendiri, hanya saja pandai menutupinnya."




Karya: "Rahayu Kusasi"; Penerbit: "kepik ungu" -kepak inspirasi-

Tidak ada komentar: