20080311

LOGIC OF SEX






ini bukan cerita kehidupan sexs saya tapi ini hasil percobaan saya mengkorelasikan bacaan saya file-file psikosexual dengan kecintaan saya memahami sosiopsikologi selama ini.

katanya perbandingan perempuan dan laki-laki adalah 9:1 nafsunya tinggi dari pada akalnya (mohon disalahkan jika salah).
Siapa yang seharusnya bertanggungjawab terhadap perubahan generasi yang akan datang (bukan maksudnya melempar tanggungjawab atau bersikap rasis):
jika benar 9:1
Logika sexs laki-laki
1. uda puas dan bisa menjaga hubungan dengan istri-->karena terlayani
2. uda puas dan gak bisa menjaga hubungan dengan istri-->gak bermoral dan sosiopat/psikopa

3. tidak puas dan bisa menjaga hubungan dengan istri
4. tidak puas dan gak bisa menjaga hubungan dengan istri
tidak mungkin tidak puas karena sudah hukumnya 9:1, jika benar maka 1:9 donk!.
adakah alasan hyper pada laki-laki? ya ! ada tapi kebutuhanya disalurkan oelh istrinya tentunya yang pasti mampu dan bisa melayaninya secara nafsu.

Logika sexs wanita
1. puas --> katanya puncak kenikmatan dan saya sering mendegar jarang yang kontinu
2. tidak puas dan bisa menjaga hubungan dengan suami-->yang pernah saya denger katanya kualitas sexs menempati 80%!!! mempengaruhi kehidupan, bisa menimbulkan pertengkaran bahkan perceraian.
3. tidak puas dan gak bisa menjaga hubungan dengan suami-->ya! maaf saya harus mengatkan disini 9:1 lagi. hyper, melacurkan diri demi kepuasan, serong.

mungkin ada ini alasan yang cukup logis dalam konteks ini.
kenapa ada PIL karena suami tidak memuaskan.
kenapa ada WIL karena istri tidak pernah berdandan, marah-marah, menuntut, tidak pengertian, dll.

semoga kita semua bisa menjawab
1. kenapa wanita adalah tiang negara?
2. kenpa wanita menopouse pada usia 45 tahun dan "aktifasi" laki sampai 70tahun?

saya yakin tuhan menciptakan perbedaan kimiawi-biologi laki-laki dan perempuan (alam biologis saya menyebutnya) sebagai pengendali alam psikologis yang kita kenal selama ini (identitas gender secara harfiah) untuk menjaga keseimbangan kehidupan sosial gender. Yang lambat laun alam biologis itu akan terkikis oleh perkembangan biologi-kimia jika manusia tidak kembali padaNya. dan akan berakibat pada kesemerawutan alam psikologis misal: kehilangan makna subtancy dari sexs, kehilangan makna subtancy dari berketuhanan, kehilangan makna subtancy dari keluarga.

what can do:
istri
seharusnya memberikan kepercayaan, menghargai dan tahu agama (surga neraka) supaya suami gak selingkuh dan jangan lupa berikan pakaian dan wewangian yang terbaik yang pernah kamu miliki. jangan lupa komunikasi dengan suami supaya suami gak poligami dan tahu bagaimana-bagaimananya kamu.

suami
seharusnya memiliki nilai jual (kesetiaan, sosial, ekonomi yang baik) ini sebagai antsisipasi bila suami tidak memuaskan di ranjang artinya istri masih membutuhkan, menggantungkan dan membanggakan suami.

Kami salut dengan perempuan baik!.
sabar, memikirkan dirinya termasuk kehidupan sexs meskipun tidak memuaskan, anak-anak dan suami yang mau dilayani (baca:keluarga). mungkin ini salah satu alasan kenapa banyak pasien wanita di Rumah Sakit.

Tapi sayang ada beberapa yang mengorganisir mencoba untuk mengalihkan kehidupan sexs dalam bentuk yang lain.
Sayangnya juga banyak suami yang kurang sensitif gender.



Hormat dan penghargaan tertinggi
kami pada perempuan

_______________________________________________________________
Harga Mati Seks

katakan wahai perempuan apa yang kamu butuhkan dari laki-laki ini
katakan wahai perempuan apa yang kamu resahkan selama ini
katakan wahai perempuan apa yang membuatmu menjadi tampak tua
apa kamu akan berpaling dariku wahai perempuanku...

jika kamu kecewa maka pulanglah ke orangtuamu dan aku akan menyusulmu
jika kamu tidak puas maka katakanlah dan jangan malu-malu
dan jika kamu diam, maka jangan kau lampiaskan ke laki-laki lain

tidakah kamu melihat aku disini untukmu
tidakah kamu melihat aku disini mencoba menjadi terbaik untukmu...

oh perempuanku ingatlah saat kamu tua, kamu akan menyesalinya...


he4856438475893745x keren gak! Apa aku sudah cukup menghayatinya.

Tidak ada komentar: